Monday, March 27, 2017

Bunda, Jangan Sampai Keliru, Bedakan Antara “Mengawasi anak” dan “Menjaga Privasi anak”

author photo

Suatu saat, setiap orang dewasa terkadang ingin sendirian saja, entah sekadar untuk merenung atau meredakan gejolak jiwa, menyalurkan hobi, mendengarkan musik, dan segala sesuatu yang ingin dinikmatinya sendirian. Pada saat-saat demikian, orang-orang dewasa tak ingin diganggu oleh siapa pun. Itulah saat-saat mereka membutuhkan privasi.

Ternyata anak-anak pun pada saat tertentu punya keinginan seperti itu. Kebanyakan orangtua menganggap anak-anak belum punya kebutuhan akan privasi, mereka dianggap tak tahu apa-apa dan sepenuhnya berada di bawah orangtua. Padahal anak-anak adalah pribadi yang sedang berkembang yang pada saat-saat tertentu perlu waktu dan ruang untuk dirinya sendiri sebagaimana orang dewasa.

Bukan Sekadar Tak Ingin Berbagi

Alzena Masykouri, psikolog anak di Klinik Kancil Jakarta, mengungkapkan bahwa privasi boleh disebut sebagai momen, waktu atau perilaku untuk menikmati kesendirian. Termasuk juga perilaku untuk menyimpan rahasia atau tidak membagikan pengalaman kepada orang lain.

Namun, lanjutnya, privasi berbeda dengan sikap tidak mau berbagi. “Karena pada perilaku tidak mau berbagi yang lebih menonjol adalah perilaku menguasai atau dominan terhadap sesuatu,” kata psikolog yang mendalami bidang kekhususan klinis anak ini. Bila anak tak ingin berbagi mainan dengan anak lain, itu bukan selalu berarti ia tengah menjaga privasinya. Perilaku tersebut hanya menunjukkan sikap tak mau berbagi saja.

Kalau selama ini yang kita pahami adalah anak baru menunjukkan kebutuhannya akan privasi pada usia menjelang remaja, nyatanya sejak usia dini pun anak sudah membutuhkan privasi. Perhatikan anak usia 3 tahunan yang ketika bermain atau saat melakukan aktivitas lainnya tak ingin diganggu siapa pun.

Atau anak yang lebih besar, misalnya usia taman kanak-kanak atau sekolah dasar, yang punya tempat – entah berupa laci atau kotak khusus – berisi segala rupa barang pribadinya yang hanya boleh dibukanya sendiri. Mereka akan jengkel bahkan marah kalau kakak, adik atau siapa pun membuka kotak tersebut tanpa seizinnya. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya anak pun sudah memiliki kebutuhan akan privasi dan dia berharap orang lain menghargai privasinya tersebut.

Kadang saat marah, anak-anak juga tak ingin didekati siapa pun. Mereka memilih berdiam di kamar atau tempat lainnya. Ini pun menunjukkan kebutuhan mereka akan privasi. “Pada dasarnya semua anak memerlukan kesempatan untuk menyendiri, terutama bila ia perlu waktu untuk menenangkan diri. Berikan kesempatan pada anak untuk dapat meredakan amarahnya dengan menyendiri,” jelas ibu satu anak ini.

Ketika anak sudah tenang, barulah orangtua menanyakan keadaannya. Bila keterbukaan dijalin orangtua dan anak sejak dini, maka tak akan sulit bagi anak untuk menceritakan apa yang dirasakannya kepada orangtuanya. “Bersamaan dengan memberikan kesempatan anak untuk melakukan hal-hal yang disukainya, orangtua juga harus mengembangkan keterbukaan dengan anak.

Sehingga, anak merasa membutuhkan orangtua sebagai pendamping,” papar Alzena. Di satu sisi anak belajar menyelesaikan persoalannya sendiri, kata Alzena, dan di sisi lain ia tak akan sungkan meminta bantuan pada orangtuanya bila ia merasa membutuhkannya.

Privasi juga merupakan bentuk tanggung jawab terhadap suatu benda atau keadaan. Dengan mengakui kepemilikan suatu benda, kata Alzena, maka terlekat pula kewajiban dan hak terhadap benda itu. “Orang dewasa dan anak lain harus menghormati kepemilikan seorang anak selama ia menunjukkan pemenuhan hak dan kewajiban terhadap benda itu,” urai wanita kelahiran Madura, 34 tahun silam ini.

Antara “Mengawasi” dan “Menjaga Privasi”

Kekhawatiran orangtua soal pergaulan anak memang hal yang wajar. Saat ini, rokok, bahkan narkoba dan VCD porno pun dengan mudah dikonsumsi anak usia sekolah dasar. Dengan alasan itu terkadang orangtua merasa harus memeriksa barang-barang, termasuk tas sekolah, anak-anaknya untuk memastikan kekhawatiran mereka. Apakah “pemeriksaan” ini bisa dibilang melanggar privasi?

“Bila alasannya kuat, jawabannya adalah tidak,” tegas Alzena. Kalau memang orangtua punya kecurigaan yang kuat, tak apa memeriksa barang-barang dan ruang pribadi anak. Namun begitu, lanjut Alzena, sebaiknya pemeriksaan dilakukan di hadapan anak, sehingga anak tidak merasa dibohongi.

Sebelumnya, orangtua pun semestinya sudah membicarakan kecurigaan mereka, agar anak paham bahwa apa yang dilakukan orangtuanya adalah untuk kebaikan mereka juga. Tapi, sekali lagi, jangan sembunyi-sembunyi melakukannya.

Tanpa alasan kuat, semestinya orangtua tak melanggar privasi anak. Misalnya, karena ingin tahu apa yang dirasakan anak, orangtua membaca buku harian anak. Padahal dalam buku tersebut mungkin saja ada kisah-kisah pribadi yang dicatat dan ingin dinikmatinya sendiri.

Perilaku orangtua seperti ini tanpa disadarinya akan menyakiti anak yang merasa tak mendapat ruang untuk dirinya sendiri. Bila orangtua mengabaikan kebutuhan privasi anak, terang Alzena, pada akhirnya akan membuat anak tidak terbiasa untuk menghargai pribadinya sendiri. “Bahkan bukan tidak mungkin anak tidak mengenali siapa dirinya yang sebenarnya,” imbuh psikolog yang hobi memasak ini.

Ketika orangtua sudah paham dan bisa menghargai privasi anak, seharusnya anggota keluarga lain pun, seperti kakak, adik, kakek, nenek, oom, tante, bahkan kerabat atau tamu yang berkunjung, diarahkan untuk menghargai privasi masing-masing juga. Perilaku menghargai privasi ini hendaknya menjadi aturan dan kesepakatan dalam keluarga.

Kesepakatan soal privasi ini dapat berbeda. “Ada keluarga yang menganggap bahwa kamar tidur itu tempat bersama, makanya jika ada kerabat yang datang, anak pindah ke kamar lain. Namun, di keluarga lain barangkali tidak bisa. Kesepakatan keluarga ini harus diposthu pula pada pendatang,” kata Alzena.

Tentu saja menghargai kebutuhan akan privasi ini tak sama dengan mengembangkan sifat egois atau mementingkan diri sendiri, karena pada dasarnya setiap orang, termasuk anak-anak, memerlukan ruang dan waktu untuk dirinya sendiri.

Sumber; http://www.wajibbaca.com/2017/03/bunda-jangan-sampai-keliru-bedakan.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement