Friday, March 31, 2017

Halo Ayah, Apa Kabar? Inilah Aku, Setelah Anak Itu Merebutmu dari Pelukanku

author photo

Menjadi seorang putri kecil bagimu, memang aku merasakan bahwa engkau terlalu aku repotkan. Aku yang membuat hari-harimu penuh dengan rasa lelah, hingga mungkin seseorang yang aku paling percaya di dalam hidup pergi meninggalkan diriku. Aku tak menangis, aku juga sudah merelakan pelukanmu untuknya.

tasinya!

Tapi ayah, hatiku tak pernah bisa berbohong bahwa setiap hari rasanya aku begitu merindukanmu. Mungkin aku pernah seberuntung anak lain yang bisa memeluk pahlawan dalam hidupnya, namun karena sang waktu juga membuat aku kehilanganmu, maka inilah dariku. Sebuah ungkapan lewat laman media, inilah Wida, seorang putri yang dulu begitu ayah banggakan.

Dear Ayah,

Sebelum semuanya tertumpah ruah, izinkan ananda untuk menyanyikan sebuah lagu untuk seorang raja yang aku sebut ayah, meskipun saat ini (mungkin) ayah sedang bermain-main dengan seorang gadis kecil lain (yang menurutku asing), yang ayah panggil dia, "nak".

Di mana.. akan kucari

Aku menangis, seorang diri

Hatiku, slalu ingin bertemu

Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta

Aku ingin bernyanyi

Walau air mata di pipiku

Ayah dengarkanlah

Aku ingin berjumpa

Walau hanya dalam mimpi

Lihatlah .. hari berganti

Namun tiada seindah dulu

Datanglah, aku ingin bertemu denganmu, aku bernyanyi

Lirik Lagu “Ayah”by Rinto Harahap

Lagu ini, ya.. lagu ini yah. Lagu ini yang selalu bisa membuat aku menangis, meskipun sudah aku putar sekian kali dalam sekian menit. Ayah tahu kenapa? Jawabannya hanya satu kata yah, yaitu kerinduanku kepadamu.

Ayah, jangan tanya aku rindu siapa? Sudah jelas tertulis dalam liriknya, Wida rindu ayah. Dan kalau pun ayah masih tetap bertanya apa yang membuat Wida rindu. Jawabannya pun hanya satu kata, yah, karena cintaku selalu untukmu.

Ya, cinta siapa lagi kalau bukan merindukan cinta seorang ayah pada putrinya yang saat ini juga sedang membagi cinta dengan gadis kecil lainnya, yang ayah sebut dia sebagai putri ayah juga.

Tenanglah yah, Wida tidak sedang marah, karena pada kenyataannya memang Wida tidak pernah bisa marah pada seorang raja yang (dulu) sangat mencintai putrinya.

Wida hanya iri, yah.

Ayah masih tanya juga, apa yang membuat Wida iri? Gadis kecil itu yah, gadis kecil yang ayah perlakukan dengan penuh manja, hampir sama seperti ayah melakukan kemanjaan itu dulu padaku, sewaktu aku masih kecil.

Kenapa dia bisa mengambil ayah begitu saja?

Kenapa dia bisa merasakan kehangatan di pelukan ayah setiap saat, sedang aku tidak?

Kenapa ayah bisa menghiburnya setiap saat?

Sedangkan aku untuk menjadi kuat saja aku tak tau caranya.

Ayah, ibu bilang, ayah adalah laki-laki paling penyayang yang tidak akan pernah rela melihat putrinya menangis. Ibu pernah bilang, ayah adalah barisan paling depan yang menjadi benteng bagi keluarganya.

Tapi itu dulu yah, 12 tahun silam, sebelum gadis kecil dan perempuan itu merampas ayah dengan paksa dari jari-jariku yang mungil. Ya, waktu itu jariku masih mungil. Jangan kan untuk menarik lengan ayah dari mereka. Memeluk ayahpun aku tidak bisa.

Ayah masih ingat tidak, apa makanan favorit Wida waktu kecil dulu? Ah mungkin ayah lupa, Wida kasih tau ya yah, kerang. Ya, kerang sungai. Dulu, hampir tiap pagi dan petang Wida dan ayah mencari kerang di sungai. Ayah bilang, kerang itu kaya protein, bikin otak cerdas.

Ayah masih ingat tidak, apa yang paling Wida suka saat jalan-jalan malam dulu?

Ah mungkin ayah juga lupa, Wida kasih tau ya yah, gemerlap lampu. Ya, lampu kelap-kelip di pinggir jalan. Dulu, saat Wida tidur lelap saat perjalanan, dan di situ banyak temaram lampu kota kelap-kelip, ayah selalu membangunkan Wida hanya untuk melihat lampu, karena ayah tahu, Wida senang sekali melihat lampu.

Ayah masih ingat tidak, siapa gadis kecil yang menangis paling keras jika ayah mau pergi keluar kota? Apa ayah juga masih ingat, siapa gadis kecil yang suka menari India di pinggir pantai tiap malam minggu? Siapa gadis kecil yang sering bertanya ini itu di sepanjang jalan? Siapa gadis kecil yang paling manja, paling egois, paling sensitif, paling sering nangis karena hal-hal kecil tanpa sebab?

Gadis kecil itu Wida, yah.

Gadis kecil ayah yang sekarang sudah berumur 22 tahun, berjuang mati-matian untuk bisa hidup memberikan kebahagiaan untuk ibu. Ibu yang saat ini menjadi ibu sekaligus ayah sejak 12 tahun lalu.

Semoga ayah mau mengenang dan tak pernah lupa jalan pulang. Terima kasih, yah, semoga suatu hari nanti Wida bisa memeluk ayah dengan erat (lagi).

Wida sayang ayah.

Sumber; http://www.wajibbaca.com/2017/03/halo-ayah-apa-kabar-inilah-aku-setelah.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement