Wednesday, March 29, 2017

Kalau OrangTua Kaya Anak Jadi Raja, tapi Kalau Anak Kaya OrangTua jadi Pembantu

author photo

Begitu kata orang, kata-kata yang sering terucap karena banyaknya orang yang melihat keadaan tersebut. Keadaan nyata dimana orangtua sering sekali tak dihargai hanya karena tak meninggalkan harta benda. Namun ini juga tidak berlaku pada semua anak, karena masih banyak anak-anak yang berbhakti.

Namun memang harus kita sadari kenyataan saat ini. Banyak pasangan muda sekarang ini yang saking sibuknya bekerja dan meniti karir mengalami situasi seperti ini yaitu Ketika Orang Tua Jadi Pembantu di Rumah Kita Sendiri.

Saya sendiri pernah berbincang dengan orangtua, saat saya tanya usianya sudah 73 tahun. Tapi masih terlihat gagah antri didepan apotik mengambil resep yang diberikan dokter untuk anaknya.

Kebetulan saat itu saya juga sedang membeli obat dan antri. Sembari menunggu saya membuka obrolan. Hingga bapak tua ini menceritakan pengalamannya waktu kecil yang sakit jantung dan dengan segala upaya ia harus lepas dari penyakit itu.

Hingga cobaan datang saat masa tuanya, anak perempuannya yang sudah berumah tangga harus mengalami kanker. Waktu itu saya tangkap dari percakapan hanya dia yang menunggu, dan suami dari anak perempuannya ini harus bekerja.

Kemudian satu hal yang saya soroti, saat bapak ini menuturkan kalimat yang benar-benar membuat saya tak ingin mengalaminya, --semoga saya dan pembaca semua diberikan rezeki yang cukup untuk merawat ibu bapak (orangtua) di kala tua, Aamiin--.

"Jadi orang tua itu nggak ingin apa-apa mas, yang penting ikhlas saja dalam mendidik mereka. Kalau mereka hidup miskin, kita bantu sebisanya (kebagian susahnya). Kalau mereka hidup senang, kita ikut senang merawat cucu-cucu kita (diperlakukan seperti pembantu)".

Berdegub jantung saya jadi lebih cepat.

Mungkin ucapan itu lumrah, semua orangtua ingin anaknya bahagia. Tapi tetap saja yang saya tangkap, kenapa harus bapak setua ini yang mengurusi segala macam keperluan anaknya yang sakit, bukan suami anaknya. Layaknya ada orangtua yang diperlakukan seperti pembantu untuk mengurus cucunya, dan orangtuanya alasan kerja/dinas.

Memang kalau dipikir, pasti tak ada anak yang tega bila menjadikan orang tua mereka sendiri sebagai pembantu. Tapi faktanya, saya melihat banyak sekali rumah tangga yang kondisinya seperti itu.

Misal sebuah contoh,
Si suami dan istri bekerja kantoran. Pergi pagi pulang petang. Tak ada pembantu, karena mencari pembantu di zaman sekarang ini sangat tidak mudah. Berita baiknya, di rumah ada ibu mereka. Si ibu inilah yang bertugas menjaga anak, mengurus rumah selagi anak dan mertuanya bekerja, dan seterusnya.

Seorang nenek atau kakek, pastilah senang bila mereka dilibatkan dalam mengurus cucu-cucunya, atau membantu anak-anak mereka dalam meringankan tugas keluarga. Jadi jika selama orang tua kita senang-senang saja mengerjakannya, tentu tidak masalah.

Tapi janganlah sampai menjaga cucu dan mengurus rumah tersebut menjadi tugas rutin. Kalau sudah rutin, apalagi kalau kita berpikir, "Untung ada Mama yang bisa menjaga si kecil dan mengurus rumah selagi kami bekerja," maka itu sama saja kita memperlakukan orang tua kita sendiri sebagai pembantu!!!

Banyak pasangan suami-istri yang berpendapat, bahwa kondisi seperti ini terpaksa mereka jalani, karena rezeki masih kurang. Gaji suami tidak cukup, sehingga istri harus ikut bekerja. Oke, alasan ini terkesan memang masuk akal.

Tapi coba kita renungkan baik-baik : Selama kita masih memperlakukan orang tua kita sendiri dengan cara memperlakukan mereka sebagai pembantu, bagaimana mungkin rezeki kita akan bisa lancar? Rezeki kita akan bisa lancar jika - antara lain - kita bisa membahagiakan dan memuliakan orang tua kita di masa tuanya.

Saat kita masih dalam kandungan, ketika kita lahir, ketika masih anak-anak, ketika kita tumbuh remaja, kita sudah sangat merepotkan mereka. Sekarang setelah kita dewasa dan berumah tangga, masihkah kita terus merepotkan mereka? Sampai kapan???
Semoga bermanfaat.

Sumber; http://www.wajibbaca.com/2017/03/kalau-orangtua-kaya-anak-jadi-raja-tapi.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement