Saturday, March 18, 2017

Turkistan, Negeri Muslim yang Dicaplok China: Pelajaran untuk Indonesia

author photo

Bus terakhir mulai berjalan membawa para mahasiswa menuju kampus. Aku duduk santai di kursi paling depan, memangku sebuah ransel coklat kesayangan.

Tetiba saja aku merasa ada yang kurang, ooh aku sadar ternyata aku lupa membawa tugas kampus yang sudah ku tulis tadi malam hingga jam dua subuh. Aku segera meminta supir untuk memberhentikan bus dan membuka pintu.

Aku turun lalu kembali menuju asrama. Setelah mengambil tugas, aku langsung turun mencari tumpangan.

Aku berdiri di depan asrama berharap ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis ke kampus.

Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebuah mobil yang aku tak ingat apa mereknya, yang ku tahu mobil itu masih baru dan berbentuk mirip seperti Honda CRV, berhenti di hadapanku.

“Mau kemana? Ayo ikut.” Ajaknya ramah, dengan Bahasa Arab.

“Mau ke Jamiah?.” Tanya ku balik.

“Iya, ayo! Naik cepat.”

Aku langsung naik. Aku duduk disisi kanannya.

Dia mulai menginjak pedal, lalu mobil pun melaju.

“Apa kabar akhi? Sehat?” Tanya pria berwajah Turki itu.

“Alhamdulillah sehat. Anta apa kabar?”

“Sehat alhamdulillah, oya dari Indonesia atau Malaysia?”.


Mobil mulai memasuki jalan raya. Kaca mobil sedikit terbuka. Angin musim dingin masuk menyentuh wajah. Hari ini tidak terlalu dingin, sekitar 20°C.
Sepertinya musim dingin sudah hampir selesai.


“Dari Indonesia. Anta dari mana?”

“Ana dari Turkistan, tau Turkistan? Turkistan itu dibawah Ch*na.” Jelasnya.

“Ooh iya. Masih Asia berarti ya. Gimana kehidupan di Turkistan?” Tanyaku.

“Akhi, kehidupan kami jadi begitu porak-poranda semenjak Ch*a masuk ke negara kami. Sekarang saja passport ana tertulis Ch*a.”

“Apa?? Kok bisa? Bukannya Turkistan negara sendiri?? Kok bisa pasportnya C*in*?” Tanyaku heran. Dia menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang dia pikul.

“Ana sudah 9 tahun tidak pulang ke Turkistan.” Keluhnya

“Loh?? Kok bisa??”

“Begini akhi, sekitar 60 tahun yang lalu, mereka orang-orang Ch*na datang baik-baik ke negara kami, bekerja, melancong, dll.

Dengan berjalannya waktu, pemerintahan kami lalai dan menganggap keberadaan mereka biasa saja.

Padahal pergerakan mereka masif, diam tapi pasti, targetnya panjang. Lalu jumlah mereka semakin banyak, banyak yang sudah mengambil warga negara Turkistan.

Pemerintahan kami tetap tidak sadar. Dan akhirnya mereka (Ch*na) melakukan kudeta. Presiden kami mereka bunuh.

Pemerintahan jatuh ke tangan mereka. Pada saat kudeta itu, ratusan ribu pribumi pindah ke bermacam negara lain. Karena kekejaman kekuasaan Ch*na. Dulu mereka hanyalah tukang sapu, sekarang kami yang mereka sapu.” Jelasnya panjang.

“Lalu bagaimana kehidupan disana?” Tanyaku balik.

“Disana semuanya serba ketat akhi. Kenapa ana sudah 9 tahun tidak balik ke Turkistan?! Karena mereka melarang siapapun pergi belajar ke negara Islam.

Ketika pembuatan pasport mereka mensyaratkan tidak boleh pergi ke Negara Islam, seperti Saudi dan Turki. Akhirnya ana bilang bahwa ana mau kuliah ke Jepang, dari Jepang ana ke Saudi. Mereka berikan izin.

Nah, jika kembali ke Turkistan, lalu mereka lihat di passport tertulis negara Islam. Ana akan dipenjara kurang lebih 10 tahun.

Di Turkistan sekarang ini, setiap hari orang-orang Ch*na berdatangan ke Turkistan, ribuan orang. Mereka diberikan tempat tinggal, diberi pekerjaan dan fasilitas. Sedangkan orang orang pribumi, dikekang bahkan diusir.” Terangnya dengan raut muka yang begitu sedih.

Mobil kami masih melaju di jalan raya, dengan kecepatan 90-100 km/jam. Sudah setengah jarak yang kami lewati untuk sampai ke kampus.

“Jadi gimana kehidupan muslim disana?” Tanyaku penasaran.

“Sholat dilarang, azan dilarang. Jilbab kalau warna hitam akan dirobek ditempat. Jenggot dilarang.
Setiap beberapa meter ada pemeriksaan. Handphone diperiksa, jika ada tulisan Allah atau ayat Quran maka bisa ditangkap dan dipenjara. Tidak boleh mengucapkan kata jihad. Kalau bertamu harus melapor dulu. Kalau tidak melapor tuan rumah bisa dipenjara 10 tahun. Beli pisau agak besar dilarang.” Sesalnya.

Sepertinya banyak hal yang susah dia ungkapkan. “Selama 9 tahun kalau liburan ana pergi ke turki, istri orang turki.” Lanjutnya.

Aku bisa bayangkan bagaiman kehidupan mereka. Berat, terkekang, terjajah.

“Ya Allah! Jaga negaraku tercinta. Jaga Indonesia. Dan biladal muslimin.” Doaku dalam hati.

“Sekarang di Indonesia, mereka (Ch*n*), semakin banyak saat ini. Masuk di perekonomian. Bahkan sudah masuk pemerintahan.”

Curhatku, aku mulai khawatir dengan keadaan negaraku saat ini. Mobil kami sudah hampir tiba di kampus.

“Wah.. akhi! Jangan sampai kalian tertidur atau lalai sedikitpun. Jangan sampai pemerintah kalian menganggap enteng hal ini. Keberadaan mereka merusak sekali. Mereka seperti tak punya keprimanusiaan. Egois.” Tegasnya. Mobil kami tiba di kampus.

Dan akhirnya aku mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Sebelum turun dia bertanya.

“Akhi! Mau jadi orang kaya?” Senyum merekah di wajahnya.

“Semua kita mau kaya.” Jawabku

“Kalau begitu, jual kucing-kucing yang ada di negaramu ke Turkistan. Sebab kucing-kucing di sana harganya sangat mahal. Karena jumlahnya sudah sangat sangat sedikit. Sudah habis dimakan orang Ch*na (non muslim tentunya).”

Semoga Allah jaga tanah air tercinta. Aamiin ya robbal’alamin.

Sumber: konfrontasi/ suaranews.co - (nahimunkar.com)

via https://www.nahimunkar.com/turkistan-negeri-muslim-yang-dicaplok-china-pelajaran-untuk-indonesia/
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement