Tuesday, April 4, 2017

Karena Meskipun Mewah, Dapurmu Tak Seindah Milik Rasulullah

author photo

Zaman dahulu dan sekarang yang jelas berbeda, dimana sekarang teknologi sudah maju dan banyak benda canggih nan apik untuk pelengkap rumah. Mulai dari televisi yang mengisi ruang keluarga, kamar tidur yang lengkap dengan teknologi masa kini, sampai dapur yang rapi dengan peralatan memasak yang memadai.

Lantas mengapa dapur kita bisa jadi tak seindah dapur Rasulullah?

Dalam sebuah buku yang berjudul ‘The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History’, karya Michael Hart menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai tokoh nomor satu yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.

“Dialah Muhammad SAW, satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan yang luar biasa. Baik dalam lingkup keyakinan (agama) ataupun perihal duniawi.” kata Michael Hart dalam bukunya.

Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baiknya tauladan manusia dalam mengarungi lautan kehidupan yang fana ini. Dan kemuliaan kekasih Allah tersebut tercermin dari sifatnya yang senantiasa menampilkan kesederhanaan.

Pada suatu kisah menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ hanya tidur beralaskan daun kurma, tubuhnya berbaring di tempat tidur yang tidak mewah sedikitpun. Bahkan dalam beberapa waktu, dapur Rasulullah ﷺ sering kali tidak pernah terlihat ‘mengepul’ asap. Dan gambaran rumah Rasulullah SAW tersebut tergambar dalam hadits berikut ini.

Abu Hurairah menuturkan, “Adakalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah Rasulullah tidak ada satupun lampu yang menyala, dapurnya pun tidak mengepul. Jika ada minyak, maka beliau jadikan sebagai makanan. Seringkali beliau tidur malam sedang keluarganya bolik-balik di atas tempat pembaringan karena kelaparan, tidak ada makan malam. Makanan mereka biasanya hanya roti yang terbuat dari gandum yang kasar.” (HR. Tarmidzi).

Dalam riwayat lainnya, Aisyah radhiallahu anha menuturkan, “Sering kali kami melewati masa hingga 40 hari, sedang di rumah kami tidak pernah ada lampu yang menyala dan dapur kami tidak pernah mengepul. Maka orang yang mendengarnya bertanya, ‘Jadi apa yang kalian makan untuk bertahan hidup?’ Aisyah menjawab, “Kurma dan air saja, itu pun jika dapat.”(HR. Ahmad).

Bahkan pada suatu ketika Rasulullah SAW pernah menahan rasa laparnya yang teramat kuat dengan sebuah batu yang diikatkan pada perutnya sebagai pengganjal.

Ibnu Bujair berkata, “Pada suatu hari Rasulullah pernah merasa sangat lapar. Lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda, ‘Betapa banyak orang yang memilih makanan yang lembut di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang pada hari kiamat!.”

Dan alasan kesderhanaan Nabi Muhammad SAW tersebut hanyalah untuk kepentingan umatnya yang pertama. Bukan tidak mampu beliau mencukupi segala kebutuhannya dengan hal mewah Rasulullah ﷺ adalah pedagang yang ulung- namun segala yang Rasulullah ﷺ miliki semata-mata diutamakan hanya untuk kepentingan umatnya.

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi, Ummul mukminin menuturkan, “Rasulullah tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut. Sebenarnya jika kita mau, kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar daripada dirinya sendiri.”

Oleh karena itu, kesimpulan yang bisa diambil adalah, sudah bersyukurkah kita hari ini ketika hendak masuk ke dapur dan mengambil makanan? Sudah ingatkah kita kepada Sang Pemberi rezeki yang akan kita makan? Semoga kita semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi hari ini, esok, dan nanti.

Sumber; http://www.wajibbaca.com/2017/03/karena-meskipun-mewah-dapurmu-tak.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement