Wednesday, April 5, 2017

Usiamu 20-an? Ini Nasehat-Nasehat Menampar dari Cak Nun yang Bakal Bikin Kamu Sadar

author photo

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953; umur 63 tahun) adalah seorang tokoh intelektual berkebangsaan Indonesia yang mengusung napas Islami. Demikian lansir Wikipedia.

Namun Cak Nun lebih dikenal sebagai Guru Bangsa. Tanpa sibuk menata citra, budayawan sepuh ini terus menerus mencerahkan jutaan hati dan kepala di ribuan desa. Bayangkan. Hanya dengan obrolan, Soeharto berhasil "dilengserkannya". Meski dihormati ulama, beliau tidak risih berdakwah pada mereka yang bertato dan terjebak kerja asusila. Dan bila hari ini ada wanita berjilbab di mana-mana, itu salah satunya dampak dari puisi karya Cak Nun "Lautan Jilbab" yang mengubah peta perempuan Indonesia. Tentu kita ingin tahu,

Dalam usianya yang sudah 63 tahun, kebijaksanaan apa saja yang bisa kita serap?

Kalau kamu pernah mendengar dakwah-dakwahnya pasti tak asing bahwa beberapa nasihatnya akan memainkan logika, sebagian membuka wawasan, dan banyak juga yang menusuk ke hati. Dikutip dari Hipwee, berikut nasihat-nasihat dari Cak Nun yang menampar sekaligus menyadarkanmu.

1. Hati-hati ikuti kata hati

Kalau orang mau bergerak hanya karena pekerjaan itu disukainya, maka kedewasaannya itu masih setingkat bayi. Kedewasaan ditandai dengan kemauan melakukan hal yang benar, seberat apapun setidak enak apapun asalkan itu bermanfaat bagi masyarakat.

Berapa banyak kawan kita yang salah memahami petuah Steve Jobs untuk "Follow your passion". Secara impulsif memutuskan resign dengan alasan "Kerjaanku yang sekarang tidak sesuai passion."

Mungkin memang dia HOBI desain, menyanyi, menulis, atau programming. Tapi dia lupa. Saat kita ingin mengubah apa yang kita sebut passion itu menjadi kerja atau bisnis, ada harga yang harus dibayar.

Kamu suka nyanyi sendiri di kamar mandi atau karaoke? Good! Tapi saat kamu mengubah hobi jadi profesi, kamu tak lagi bisa menyanyi sekehendak hatimu sendiri. Kualitas suaramu harus dijaga, lagu tidak boleh sembarangan, dan tidak bisa seenaknya membatalkan order hanya karena sedang tidak mood.

Jadi, apa yang kamu kira passion, atau renjana dalam bahasa Indonesia, ternyata "hanya" hobi.

Kedua, katakanlah benar menyanyi adalah renjanamu. Bukan hobi. Tapi, siapkah kamu dengan segala prosesnya? Menjadi penyanyi profesional dan ternama tidak semudah yang kamu bayangkan. Bahkan, mereka artis hasil "audisi instan" pun harus melakukan berbagai penyesuaian. Banyak yang nggak kuat, hingga akhirnya tenggelam. Padahal, menjadi seperti mereka berarti sudah gabungan dari dua "passion" sekaligus bukan? Menyanyi dan TERKENAL.

Jadi, jangan sok-sokan mengikuti renjana padahal sebenarnya kamu hanya menghindari hal-hal yang kamu benci. Setuju?

2. Lihatlah Indonesia dari sisi yang berbeda

Coba sebutkan 7 masalah Indonesia!

Mungkin bisa lebih dari tujuh. Karena memang, negeri ini penuh masalah. Benarkah?

Sebenarnya, ini karena media. Mereka lebih suka mengabarkan berita buruk. Kabar baiknya, kamu bisa mengubahnya. Lihatlah negerimu ini dari kaca yang lebih terang, dari sudut pandang yang lebih proporsional. Kalau kamu bisa menemukan angle terbaik untuk selfie-mu, pasti kamu bisa mencari sudut pandang terbaik untuk negerimu.

Karena, hanya di Indonesia ada pemuda yang gajinya pas-pasan berani melamar anak orang dan ambil kredit motor pula! Tentang ini, akan lebih baik kalau kamu merutinkan melongok feed di GNFI yang konsisten mengabarkan berita baik dari Indonesia. Atau, kamu bisa baca buku "Kagum kepada Orang-orang Indonesia" karya Cak Nun. Di buku itu beliau menceritakan pengalaman nyatanya bertemu dengan orang Indonesia dari berbagai latar belakang. Kesimpulannya, orang yang menganggap bangsa Indonesia ini pemalas, bodoh, dan korup adalah orang yang belum mengenal Indonesia.

Kurangi ngobrolin masalah negeri. Alihkan dengan membiasakan berbagi inspirasi.

3. Biarlah uang yang mencarimu!

Awalnya kita agak terkejut, "Kok kaya MLM?"

Padahal, maksud beliau sebenarnya sederhana. Boleh banget kamu punya uang banyak, tapi janganlah bekerja semata-mata untuk uang. Bekerjalah untuk menebar manfaat. Uang akan mengejarmu. Ini cara yang diterapkan nabi, sahabat, dan para milyarder zaman sekarang.

Lihat Mark Z, Larry Page, Warren B, Elon Musk, hingga entrepreneur Indonesia seperti Ghufron Mustaqim (Sales Stock), Andrew Darwis (Kaskus), Sally Geovani (Batik Trusmi). Spirit para pengusaha dan profesional ini titik awalnya bukanlah uang. Tapi, kebermanfaatan hidup.

4. Kau tak harus selalu jadi anak kekinian. Sesekali, “kesepian” pun kau perlukan

Omongan orang, tren gadget, tren jurusan kuliah dan karir, adat, dan etika sosial, membuat telinga batinmu mendengar terlalu banyak hal. Semua gaduh dalam pikiranmu sampai-sampai kau tak mampu mendengar suaramu sendiri. Karena itulah, setelah jenuh dengan bunyi, kita perlu rehat dalam sunyi.

Karena…

5. Hanya kesunyian yang mampu membuat kita tak mendua

Dalam sunyi, kita bisa mendengar suara hati kita yang sebenarnya. Kita mampu melihat keputusan-keputusan yang sangat personal. Tanpa harus diribetkan dengan kompromi prinsip, ewuh pekewuh, sungkan, dan tekanan sosial.

Dalam sunyi, kita mampu melihat lebih jernih tentang arti hidup. Kita bisa petakan potensi sejati untuk meraih kesuksesan yang hakiki. Seperti yang dibahas di poin 6 di halaman selanjutnya.

6. Hakikat hidup adalah apa yang kita kerjakan dan mengakar di jiwa

Maka, selain banyak membaca dan berkata-kata baik, kita mutlak memperbanyak kerja nyata. Karena itulah yang akan mengakar. Kerja dan karya nyata itulah yang akan menjadi inti hidup kita. Semua orang bisa menge–like status orang yang sedang kesusahan. Tapi hanya sedikit yang mampu benar-benar membantu.

Memberi "jempol" kini sangat mudah. Mengirim "GWS" juga murah. Orang makin merasa tidak perlu untuk benar-benar menjenguk orang sakit, bersilaturahmi saat lebaran, meminjami uang, atau sekedar mengantarnya ke rumah. Dan justru itulah yang membuat orang yang beraksi nyata membantu, sangat tinggi nilainya.

Benar-benar mengunjunginya ke rumah sakit di era kita cukup unggah di sosmed adalah sebuah tindakan heroik. Karena semua orang mampu memberi "hati", "love", "like", atau "jempol". Tapi hanya segelintir yang mampu benar-benar mengulurkan tangan (tidak hanya jempol). Dan beruntunglah orang-orang yang segelintir itu.

7. Seperti apakah doa yang mudah dikabulkan itu?

Doa yang mudah dikabulkan itu bukan doa yang meminta atau menjilat, tapi orang yang berkomitmen untuk terus menyapa.

Ibaratnya kamu punya temen. Yang satu hobi minta-minta. Entah minta uang, pinjem hape, minta tolong antar, ataupun minta traktir. Temanmu yang lain, suka banget memuji. Meskipun ujung-ujungnya minta, tetap kamu lebih suka yang kedua 'kan? Sekarang…

Bagaimana kalau ada teman yang rajin menyapamu, membantumu, dan mendengarkanmu TANPA dia meminta-minta kepadamu? Kamu justru penasaran. "Dia kok baik banget sih? Apa yang bisa saya kasih buat dia?"

Karena itu, ngobrolah dengan Tuhan tidak hanya saat kamu ssusah atau butuh. SAPAlah DIA kapanpun kamu ingat. Dia akan memenuhi kebutuhanmu.

8. Hidup bukan soal menang kalah tapi berjuang atau menyerah

Kebanyakan orang ingin segera ber-hasil tapi selalu menunda ber-proses.

9. Waspadai pembengkakan populasi vs penyempitan lapangan kerja

Sebenarnya mirip jaman dulu. Di zaman penjajahan, para muda tidak punya pilihan lain selain harus berjuang ekstra keras. Lengah sedikit, nyawa taruhannya. Zaman sekarang pun sama. Disadari atau tidak, kamu menghadapi era persaingan yang semakin berat. Dan ini hanya dimenangkan oleh mereka yang tidak priyayi, yang ulet, dan bersedia bekerja keras.

Dan tentu, memiliki mental wiraswasta tanpa harus jadi pengusaha.

10. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada

Tidak hanya dalam peta sosial, politik, dan kebudayan. Dalam romansa pun demikian.

Karena memang, cinta adalah ketika dia tidak terlihat, tapi tetap ada di pikiranmu.

11. Kasihan dia

Kalau ada orang yang menyakitimu, jangan sampai orang itu tahu bahwa kamu tahu dia sedang menyakitimu. Kasihan dia.. – Emha Ainun Najib

Kalau keponakanmu yang masih balita membanting hapemu tanpa sengaja, dia tidak perlu tahu bahwa kamu sedih. Karena kamu lebih dewasa darinya.

Kalau ada yang memukulimu, biarkan dia mengira bahwa dia hanya memijatmu. Karena kamu keterlaluan kuatnya dibanding dirinya.

Kalau ada yang meledekmu dengan,"Kapan lulus?", "Kapan nyusul?", biarkan saja dia tertawa mengira kita senang mendengar pertanyaannya. Karena kita tahu dia hanya basa-basi dan mati-matian menjalin keakraban denganmu. Sayangnya, dia tidak tahu caranya.

12. Tagihlah dirimu

Jangan paksa orang untuk mencintaimu. Tagihlah dirimu untuk mencintai siapapun.

Maka, hidupmu akan merdeka. Kamu tidak lagi tersiksa dorongan untuk membuat orang lain terkesan. Kamu tidak menuntut cintamu berbalas. Kamu hanya ingin melakukan yang terbaik. Menyayangi diri, lalu mencintai siapapun.

13. Seribu karya nyata vs Seribu fitnah

SERIBU LAWAN SERIBU
Siapa yang berbuat baik terus menerus sampai seribu kali, sebaiknya jangan menunggu diakui, diingat, apalagi dipuji oleh orang lain meskipun sekedar satu kali. Tetapi, siapa saja yang diduga berbuat buruk satu kali saja, meskipun belum tentu ia melakukannya, hendaklah ia bersiap untuk dituding, diingat, dan dikutuk oleh orang lain minimal seribu kali.

14. Hidup Bukan Tentang Kaya dan Miskin Tapi Cara Meraihnya

Hidup itu bukan tentang kaya dan miskin. Tapi bagaimana kita meraih kekayaan dan kemiskinan itu. Kita bisa curiga bagaimana orang-orang tertentu bisa kaya. Korupsikah? Pesugihankah? Maka, kita perlu memberi kecurigaan yang sama pada kemiskinan. Bagaimana bisa Tuhan yang Maha Pemurah tega membuat kita miskin? Apakah kita malas? Kufur nikmat? Suka mengambil yang bukan haknya? Enggan bekerja keras?

Tapi yang perlu diingat, Tuhan tidak mewajibkan kita sukses, kaya, atau malah sebaliknya. Buktinya, gagal dan miskin tidak dianggap sebagai dosa dan sukses serta kaya raya tidak dikategorikan sebagai pundi-pundi pahala. Tuhan hanya mewajibkan untuk sungguh-sungguh bekerja dan berusaha. Tuhan tidak akan marah karena kita gagal. Tapi sangat sedih bila kita malas-malasan dan enggan memberi yang terbaik. Padahal, Dia sudah memberikan yang terbaik bagi kita.

15. Takut Berdoa

Seseorang mengeluh:

"Bagaimana ya. Saya ini takut berdoa atau meminta kepada Tuhan. Jangan-jangan nanti saya dituduh serakah. Sebab semua apa saja yang dalam kehidupan ini adalah rahmat Allah yang berlimpah-limpah. Tapi saya juga khawatir kalau tidak berdoa, nanti saya dituduh sombong kok tidak mau memohon kepada Tuhan."

Karena harus menjawab, saya arif-arifkan tanggapan saya:

"Di dalam ungkapan Sampeyan terkandung dua hal. Pertama, rasa syukur yang penuh kepada Allah. Kedua, ada sesuatu yang memang ingin Sampeyan mohonkan. Saya berharap Allah menilai rasa syukur adalah doa yang tertinggi nilainya, serta paling sopan cara penyampaiannya".

Jadi, apa saja kesanmu membaca petuah bijak Cak Nun di atas? Mana yang paling membetot hatimu? Mana yang masih menggema dalam pikiranmu? Tuliskan di komentar.

Awali mempraktekkan ilmu hidup di atas dengan mencatat apa yang menarik bagimu di komentar. Mari berbagi inspirasi.

Sumber; http://www.wajibbaca.com/2017/03/usiamu-20-ini-nasehat-nasehat-menampar.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement