Monday, May 8, 2017

Bendahara Yang Tidak Amanah

author photo

Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga amanah yang telah diberikan. Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak perkara akhirat dan agama seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain

Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi gelar al-amin, artinya orang yang dapat dipercaya. Beliau adalah orang yang sangat menunaikan amanah, bahkan orang kafir quraisy pun mempercayakan harta bendanya untuk dititipkan kepada beliau tatkala mereka pergi. Amanah terbesar yang beliau emban adalah amanah risalah, yaitu menyampaikan wahyu Allah Ta’ala kepada umatnya.

Lawan dari amanah adalah khianat. Allah Ta’ala berfirman,

ياايها الذين امنوا لا تخونوا الله والرسول وتخونوا امنتكم وانتم تعلمون

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kalian mengkhianati amanah kalian sedang kalian mengetahui” (QS: Al-Anfal: 27).

Model dari sikap khianat sangat banyak macamnya, salah satunya dalam hal pengelolaan uang yang sering dikaitkan dengan tugas seorang bendahara.

Kriteria yang Harus Dimiliki oleh Pekerja
Allah Ta’ala berfirman,

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖإِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

“Seorang dari salah satu perempuan itu berkata: ‘Wahai Ayahku, jadikanlah dia sebagai pekerja, sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil sebagai pekerja adalah orang yang kuat (Al-Qawiy) dan orang yang dapat dipercaya (Al-Amin)’” (QS. Al Qashash: 26).

Allah Ta’ala juga berfirman,

قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“’Ifrit dari golongan Jin berkata: ‘Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu, dan sungguh aku adalah seorang kuat (qawiyyun) dan dapat dipercaya (amiinun)’” (QS. An-Naml: 39)

Dari dua ayat di atas, para ulama menyimpulkan dua hal yang harus dimiliki seorang pekerja. Yang pertama adalah al-qawiy, yaitu memiliki kekuatan dan yang kedua adalah al-amin, yaitu dapat dipercaya.

1. Al-Qawiy

Syarat pertama adalah seorang itu harus memiliki kekuatan, yaitu kemampuan dalam melakukan sesuatu. Hal ini berkaitan dengan urusan dunia. Misalnya seorang yang ingin diangkat menjadi bendahara, maka dia harus memiliki kemampuan manajemen uang yang bagus, mencatat uang masuk dan keluar secara rapi, mampu memilah dan memilih uang mana saja yang berhak untuk digunakan.

2. Al-Amin

Syarat kedua adalah orang tersebut amanah, artinya dapat dipercaya dalam melakukan tugasnya. Hal ini berkaitan dengan urusan akhirat. Seseorang yang memiliki kemampuan manajemen yang baik, namun tidak amanah, maka bukanlah pekerja yang baik. Sebaliknya jika ia amanah namun tak cakap dalam bidang kerjanya, maka tidak termasuk pekerja yang baik pula.

Realitanya, menjumpai seseorang yang memiliki dua kriteria di atas pada zaman sekarang adalah hal yang tak mudah. Jika tidak terkumpul kedua tersebut, maka pilihlah salah satu yang dianggap paling mashlahat dan sesuai dengan tugasnya.

Sebagai contoh, seorang pemimpin perang lebih diutamakan orang yang memiliki kekuatan. Imam Ahmad ditanya manakah yang lebih pantas jadi pemimpin perang, orang yang kuat namun fajir, ataukah orang yang lemah namun shalih? Beliau menjawab, “orang yang kuat namun fajir, karena kekuatan orang tersebut akan bermanfaat bagi orang banyak, sedangkan kefajirannya hanya merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya orang yang lemah namun shalih, kelemahannya akan merugikan orang banyak saat berperang, adapun keshalihannya hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri” (Ta’liq Siyasah Syar’iyyah hal. 47-48, karya Syaikh Ibnu Utsaimin).

Contoh lain adalah seorang bendahara, harus diutamakan orang yang memiliki sifat al-amin meski kemampuan manajemen keuangannya rendah, karena untuk kemampuan manajemen uang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu. Namun tetap yang lebih baik adalah jika terkumpul sifat al-qawiy dan al-amin.

Contoh Perbuatan Khianat Seorang Bendahara
1. Melakukan dusta

Seorang bendahara yang mencatat keluar masuknya uang, namun pencatatannya tidak sesuai dengan realita, maka telah melakukan dusta terhadap laporan keuangannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ

“Sesungguhnya kedustaan akan membimbing menuju kejahatan, dan kejahatan akan membimbing menuju neraka” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Memakai uang untuk keperluan pribadi

Hal ini jelas sebuah pelanggaran karena uang yang dipegang bendahara bukanlah uang pribadi, melainkan uang orang banyak yang dikelola oleh bendahara sebagai pengemban tugas.

3. Menyalurkan uang bukan pada haknya

Jika uang yang diberikan diamanahkan untuk kegiatan A, maka tidak boleh diselewengkan umtuk kegiatan B. Ini bukanlah sikap yang amanah.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58).

Ancaman Orang yang Berkhianat
1. Pembalasan di hari kiamat kelak

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah sampai hari kiamat.” Ada yang bertanya, ‘apa contoh amanah yang telah di sia-siakan?’ Rasulullah menjawab, ‘Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah sampai kiamat terjadi’” (HR. Al Bukhari). Orang yang bukan ahlinya termasuk orang yang tidak memilki dua persyaratan pekerja yang telah disebutkan di atas.

2. Tergolong orang munafik

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا اؤتمن خان

“Tanda-tanda orang munafiq ada tiga, jika berbicara berdusta, bila berjanji tidak menepati janjinya, dan apabila diberi amanah mengkhianatinya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jika Terlanjur Mendapatkan Amanah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abdurrahman bin Samurah,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لاَ تَسْأَلُ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا وَإِنْ أُعْطِيْتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan, jika jabatan diberikan sedang kamu tak memintanya, maka engkau akan ditolong. Tapi jika engkau diberi jabatan karena memintanya, maka engkau tidak akan ditolong” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Seorang yang telah diberikan jabatan, maka dia wajib bertakwa kepada Allah, menunaikan kewajibannya sesuai dengan kadar kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah sesuai dengan kadar kemampuanmu” (QS. At Taghabun: 16).

Allah Ta’ala juga berfirman,

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebani seseorang di luar dari kesanggupannya “ (QS. Al-Baqarah: 286).

Keutamaan Orang yang Amanah
1. Termasuk orang-orang yang beriman

Ingatlah janji Allah tentang sifat-sifat orang yang beriman. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ هُمْ لأمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ

“Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya” (QS. Al-Mukminun: 8).

2. Termasuk orang-orang yang bersedekah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْخَازِنُ الْمُسْلِمُ الأَمِينُ الَّذِى يُنْفِذُ – وَرُبَّمَا قَالَ يُعْطِى – مَا أُمِرَ بِهِ كَامِلاً مُوَفَّرًا طَيِّبٌ بِهِ نَفْسُهُ ، فَيَدْفَعُهُ إِلَى الَّذِى أُمِرَ لَهُ بِهِ ، أَحَدُ الْمُتَصَدِّقَيْنِ

”Bendahara muslim yang diberi amanah ketika memberi sesuai yang diperintahkan untuknya secara sempurna dan berniat baik, lalu ia menyerahkan harta tersebut pada orang yang ia ditunjuk menyerahkannya, maka keduanya (pemilik harta dan bendahara yang amanah tadi) termasuk dalam orang yang bersedekah” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Penutup
Seorang muslim yang berakhlak pada Allah dan manusia, wajib untuk menjaga amanah yang telah diberikan. Jika amanah itu tidak ditunaikan, akan merusak perkara akhirat dan agama seseorang, jadilah hal ini akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Demikian pembahasan singkat yang dapat disampaian, semoga bermanfaat. Wallahul Muwaffiq.

Sumber: https://muslim.or.id/24965-bendahara-yang-tidak-amanah.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement