Monday, May 1, 2017

Inilah 9 Keutamaan Amar Makruf Nahi Munkar (Bagian 3)

author photo

Kedelapan, amar makruf nahi munkar penjadi penyebab dosa-dosa terampuni. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلاَةُ وَالصَّدَقَةُ وَاْلأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Dosa-dosa seorang laki-laki terhadap istri, harta benda, diri sendiri, anak, dan tetangganya, dapat dihapus dengan puasa, shalat, bersedekah, dan mendirikan amar makruf dan nahi munkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kesembilan, memfungsikan amar makruf dan nahi munkar berarti menjaga lima prinsip yang utama dalam Islam, yakni agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda.

Sejatinya, masih banyak keistimewaan lain dari amar makruf nahi munkar. Pada intinya, umat Islam harus senantiasa melakukan perbuatan ini sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Hal ini agar terjauh dari menyerupai sikap kaum Bani Israil yang tidak melakukan amar makruf nahi mungkar di kalangan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُوْنَ – كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُوْنَ

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma`idah: 78-79).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkara, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka (hendaklah dia mengubahnya) dengan lisannya.

Jika tidak mampu, maka (hendaklah dia mengubahnya) dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Demikian tulisan yang sederhana ini, semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Sumber; http://bersamadakwah.net/inilah-9-keutamaan-amar-makruf-nahi-munkar-bagian-3/
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement