Wednesday, May 10, 2017

Mementingkan Dakwah atau Amal untuk Diri Pribadi?

author photo

Manakah yang mesti dipentingkan apakah dakwah ataukah amal untuk diri pribadi? Keutamaan dakwah di antaranya disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, …

Manakah yang mesti dipentingkan apakah dakwah ataukah amal untuk diri pribadi?

Keutamaan dakwah di antaranya disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893).

Suatu kaedah yang biasa dikemukakan oleh para ulama bahwa amalan yang manfaatnya untuk orang banyak lebih didahulukan daripada yang manfaatnya untuk individu.

Ibnul Hajj pernah berkata dalam Al Madkhol,

ولاخلاف بين الأئمة في أن الخير المتعدي أفضل من الخير القاصر على المرء نفسه

“Tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama bahwa kebaikan yang manfaatnya bagi orang banyak lebih utama daripada kebaikan yang manfaatnya untuk diri pribadi.”

Tidak Berlaku Umum
Kaedah di atas tidak berlaku secara mutlak untuk semua hal. Az Zarkasyi menyatakan bahwa kaedah tersebut hanyalah kaedah umum. Oleh karenanya Al Haitami menyatakan dalam Tuhfatul Muhtaj, “Kaedah yang menyatakan bahwa amalan yang manfaatnnya untuk orang banyak lebih utama daripada amalan yang dampaknya untuk pribadi saja, hanyalah kaedah umum. Karena ada amalan individu yang punya keutamaan seperti iman. Iman di sini lebih utama daripada jihad.” Dan beliau menyatakan sendiri dalam Al Fatawa Al Kubro, “Umumnya, amalan yang manfaatnya pada orang banyak lebih utama daripada amalan yang manfaatnnya untuk diri pribadi.”

Ada pertanyaan yang pernah diajukan pada Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah selaku mufti Kerajaan Saudi Arabia di masa silam, “Apakah seluruh amalan yang punya dampak baik pada orang banyak punya keutamaan lebih dari amalan yang manfaatnya untuk diri pribadi? Atau ada pertimbangan lain untuk menyatakan bahwa ada nilai lebih satu dan lainnya? Ataukah ada keadaan di mana amalan yang manfaatnya untuk diri pribadi lebih utama dari amalan yang dampak baiknya pada orang banyak?

Jawaban dari Syaikh Ibnu Baz rahimahullah, “Masalah ini kembali pada dalil syar’i. Amalan memang ada yang punya dampak baik pada orang banyak dan ada yang dampaknya pada diri pribadi. Shalat misalnya amalan yang utama setelah dua kalimat syahadat. Padahal shalat adalah amalan yang dampaknya pada diri pribadi dan pahalanya pun untuk individu, tidak berpengaruh pada orang banyak. Zakat punya dampak pada orang banyak, namun shalat lebih utama dari zakat. Jadi sekali lagi penilaian manakah yang lebih afdhol dalam bahasan yang kita kaji dikembalikan pada dalil syar’i.” (Dinukil dari Ahlalhdeeth.Com)

Tetap Memperhatikan Amal Pribadi
Tentu pula setiap individu mesti memperhatikan amalan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga, itu lebih didahulukan. Jangan sampai sibuk memikirkan kemanfaatan pada orang banyak sampai-sampai melupakan kemanfaatan untuk diri sendiri, istri dan anak-anak. Coba perhatikan kondisi penduduk surga, Allah berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18) وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (19)

“Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz Dzariyat: 16-19).

Dalam ayat di atas disebutkan ibadah dengan sebutan ihsan (berbuat baik). Ihsan tersebut dimulai dari berbuat baik pada diri sendiri lebih dahulu dan ini disebutkan dalam dua ayat (ayat 17 dan 18) yaitu lewat amalan shalat malam dan beristighfar di waktu sahur. Baru setelah itu disebutkan dalam satu ayat bentuk ihsan dengan berbuat baik pada orang miskin. (Minhatul ‘Allam, 10: 131).

Semoga bermanfaat.

Sumber: https://muslim.or.id/23510-mementingkan-dakwah-atau-amal-untuk-diri-pribadi.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement