Saturday, May 27, 2017

Menggapai Kekhusyukan

author photo

Pujian Allah kepada para Nabi dan Rasul yang khusyuk kepada-Nya menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan khusyuk tersebut

Seringkali karena kebodohan kita, kita menyempitkan makna ibadah hanya sebatas pada amalan-amalan lahiriyah seperti shalat, zakat, sedekah, atau naik haji. Sedikit sekali pengetahuan kita tentang adanya ibadah-ibadah hati yang juga dicintai oleh Allah Ta’ala. Seseorang pun bisa jatuh ke dalam perbuatan syirik karena dia tidak waspada dan lalai dalam mengawasi gerak-gerik hatinya, kemanakah hati itu condong. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini kami ingin membahas salah satu bentuk ibadah hati, yaitu khusyuk kepada Allah.

Pujian Allah kepada Orang-Orang yang Khusyuk

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

”Sesungguhnya mereka itu senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebaikan serta berdoa kepada kami dengan penuh “raghbah” dan “rahbah”. Sedangkan mereka selalu khusyuk hanya kepada kami” (QS. Al-Anbiya’ : 90).

Di dalam ayat ini, Allah memuji hamba-hamba-Nya yang pilihan dari kalangan para Nabi dan Rasul yang Allah sebutkan dalam surat Al-Anbiya’. Karena mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan diliputi perasaan raghbah, rahbah, dan khusyuk. “Raghbah” adalah bentuk khusus dari raja’ (berharap), yaitu mengharap memperoleh pahala di sisi-Nya. Sedangkan “rahbah” adalah bentuk khusus dari khouf (rasa takut), yaitu rasa takut terhadap hukuman dan siksa dari Allah. Adapun yang dimaksud dengan khusyu’ adalah rasa tunduk dan merendahkan diri di hadapan keagungan Allah, sehingga dengannya seseorang pasrah kepada takdir-Nya dan kepada syari’at-Nya.

Pujian Allah kepada para Nabi dan Rasul yang khusyuk kepada-Nya menunjukkan bahwa Allah mencintai perbuatan khusyuk tersebut. Sedangkan setiap perbuatan yang Allah cintai termasuk dalam ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Allah. Hal ini sebagaimana definisi ibadah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yaitu, ”Ibadah adalah sebuah istilah yang mencakup seluruh ucapan dan perbuatan yang dicintai Allah, baik yang bersifat lahir maupun batin. Contohnya khauf (rasa takut), khasyah (bentuk khusus dari khauf), tawakkal, shalat, zakat, puasa, dan syariat Islam yang lain”. Oleh karena itu, apabila khusyuk ini ditujukan kepada selain Allah, maka termasuk ke dalam kesyirikan.

Khusyuknya Hati, Pandangan, dan Suara

Khusyuk berkaitan dengan hati, pandangan, dan suara. Orang yang khusyuk di hadapan Allah berarti merendahkan suaranya, menundukkan pandangannya, dan hatinya tunduk kepada syari’at Allah. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

”Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk hati mereka khusyu’ (tunduk) mengingat Allah, dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)” (QS. Al-Hadid : 16).

Allah Ta’ala berfirman,

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

”Dalam keadaan mereka (orang-orang kafir) menundukkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka” (QS. Al-Ma’aarij : 44).

Allah Ta’ala juga berfirman,

يَوْمَئِذٍ يَتَّبِعُونَ الدَّاعِيَ لَا عِوَجَ لَهُ وَخَشَعَتِ الْأَصْوَاتُ لِلرَّحْمَنِ فَلَا تَسْمَعُ إِلَّا هَمْسًا

”Pada hari itu (hari kiamat) manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok. Dan merendahlah (khusyu’) semua suara kepada Dzat Yang Maha Pemurah. Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja” (QS. Thaha : 108).

Khusyuknya Kaum Musyrikin

Marilah kita menyempatkan diri sejenak melihat keadaan orang-orang musyrik di sisi sesembahan mereka. Misalnya keadaan para penyembah kubur wali, raja, atau orang shalih lainnya yang sering kita jumpai menjadi satu kompleks dengan masjid. Kita akan mendapatkan mereka berada dalam kekhusyukan yang (mungkin) tidak mereka tunjukkan ketika berada di masjid Allah yang tidak ada kuburnya. Ketika berada di sisi kubur sesembahannya, mereka benar-benar merasa berharap (raghbah), takut dan cemas (rahbah), serta khusyuk, sampai-sampai tubuhnya tenang, diam tidak bergerak. Bernafas pun harus tenang tidak menimbulkan suara. Inilah bentuk nyata ketundukan dan pengagungan hati mereka kepada sesembahannya yang batil itu. Semuanya itu tidaklah pantas ditujukan kepada siapa pun kecuali hanya kepada Allah semata.

Padahal, yang mendapatkan pujian dan termasuk salah satu ciri orang yang beriman kepada Allah adalah seseorang yang khusyuk ketika menghadap beribadah Allah Ta’ala semata, misalnya menghadap Allah dalam shalatnya. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

”Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minuun : 1-2).

Khusyuk inilah yang merupakan ruh dan tujuan dari shalat. Adapun shalat yang tidak diserta rasa khusyuk dan tidak menghadirkan hatinya, meskipun tetap mendapatkan pahala, namun pahalanya akan berkurang sesuai dengan kurangnya rasa khusyuk dalam shalatnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang khusyuk.

Sumber: https://muslim.or.id/24110-menggapai-kekhusyukan.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement