Monday, May 22, 2017

Penjelasan Kaidah Keempat Al-Qowa’idul Arba’ah

author photo

Kaidah Keempat : “Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin pada zaman Rasulullah"

Penutup

BAB KE-5 : Kaedah keempat

Imam dakwah Tauhid,Syaikhul Islam Muhammad At-Tamimi rahimahullah berkata :

القاعدة الرابعة

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركـًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة. والدليل قوله تعالى: {فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}[العنكبوت:65].

Terjemah Matan

Kaidah keempat:

Sesungguhnya kaum musyrikin di zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan (kesyirikan) kaum musyrikin zaman dahulu (yaitu: pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, pent.). Karena kaum musyrikin zaman dahulu mereka berbuat syirik pada saat lapang (bergelimang kenikmatan) dan mereka mengikhlaskan (ibadah kepada Allah semata) ketika berada dalam keadaan sempit (tertimpa musibah).

Sedangkan orang-orang musyrik di zaman kita, kesyirikan mereka terjadi dalam setiap keadaan, baik ketika lapang maupun sempit. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

{فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ}

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah]. [QS.Al- Ankabut: 65].

Penjelasan (Syarh):

Kaidah Keempat :

“Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ditinjau dari sisi saat kesulitan/tertimpa musibah, kaum musyrikin zaman sekarang tetap menyekutukan Allah Ta’ala.”.

Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan keadaan musyrikin ketika mereka berada dalam keadaan bahaya, menaiki kapal lalu ditimpa angin kencang dan khawatir tenggelam, mereka berdo’a kepada Allah semata dengan ikhlas dan tidak berdo’a kepada patung-patung mereka, karena mereka tahu bahwa tidak ada satupun yang mampu menyelamatkan mereka kecuali Allah.

Namun ketika mereka selamat di daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.

Inti Kaidah Keempat : Penetapan bahwa kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,ditinjau dari sisi tertentu,yaitu :

Kaum musyrikin dahulu mentauhidkan Allah dalam berdo’a, ketika tertimpa musibah atau sedang kesulitan,namun menyekutukan Allah ketika keadaan senang dan lapang, dengan menyembah patung, pohon dan batu.

Adapun musyrikin sekarang, menyekutukan Allah baik ketika senang dan lapang, maupun ketika sulit dan tertimpa musibah,bahkan bisa jadi ketika tertimpa musibah tambah besar kesyirikannya.

Kaum musyrikin dahulu menyembah pohon, para Nabi dan sholihin. Adapun musyrikin sekarang menyembah semua sesembahan yang disebutkan di atas dan menyembah orang kafir atau fasik, orang-orang yang tidak shalat , tidak puasa dan tidak meninggalkan perbuatan keji, karena diyakini orang yang disembah itu sudah tidak berlaku baginya Syari’at tentang pengharaman sesuatu, Syari’at itu diyakini hanya berlaku bagi orang-orang awam.

Faedah kaedah ini :

Menggugah kesadaran banyak orang, bahwa walaupun suatu zaman sudah modern, namun ketika seseorang tidak berilmu tentang kesyrikan dengan benar atau ilmunya sangat kurang atau kurang diingatkan kembali akan bahayanya kesyirikan, maka sangat memungkinkan terjatuh ke dalam kesyirikan.

Bahkan, bisa jadi kesyirikan yang dilakukannya lebih parah daripada kesyirikan yang dilakukan kaum musyrikin yang dihadapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu.

Maka, tidak ada jaminan bagi suatu negeri yang berteknologi tinggi dan bagi negara yang maju, bahwa negara tersebut pasti penduduknya selamat dari kesyirikan!

Karena kemuliaan suatu negara itu adalah ketika penduduknya mengetahui dengan baik ajaran agama Islam dan mengamalkannya.

Sedangkan ajaran agama Islam teragung dan asas perbaikan masyarakat terbesar adalah tauhid!

Dengan demikian, pelajaran tauhid relevan dikaji di sepanjang zaman dan di semua tempat!

وصــلى الله وســلـــم عــلـى نـبــيــنـا مـحـــمــد وعــلـى آلــه وصــحــبــه أجــمــعـيــن وآخر دعوانا أن الحــمد لله رب العالميــن الــذي بــنــعمـته تتم الصالحات.

Serial tulisan ini, banyak merujuk kepada referensi berikut ini:

Syarhur Risalah Al-Qowa’id Al-Arba‘,Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr

Syarhul Qawa’id Al-Arba‘, Syaikh Shaleh Al-Fauzan

Transkrip ceramah syarah Al-Qowa’id Al-Arba’ah, Syaikh Sholeh Alusy-Syaikh.

Sumber; https://muslim.or.id/27389-penjelasan-kaidah-keempat-al-qowaidul-arbaah.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement