Saturday, May 13, 2017

Tak Pandai Menyikapi Beda Pendapat Ulama

author photo

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dalam masalah ijtihad selama tidak ada dalil yang tegas tidak perlu sampai mencela para mujtahid yang menyelisihinya seperti dalam permasalahan yang masih diselisihi para salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 9: 112-113).

Kurang dididik menghargai pendapat ulama yang bisa ditolelir, akhirnya membuat saling bermusuhan, saling mencap sesat, saling menjauh, dan merasa dialah yang benar dari yang lain. Ini yang kami rasakan sejak ngaji dahulu.

Lain halnya kalau berbeda dalam hal yang telah disepakati atau ada dalil yang sudah tegas, di sini jelas kita bisa ngotot dengan pendapat kita, namun tetap juga mendahulukan akhlak yang mulia tatkala menyampaikan.

Itulah mengapa penulis sendiri kurang sreg berbicara ilmu di hadapan para ikhwan yang sudah lama ngaji. Lebih tenang, jika kami menyampaikan ilmu pada orang awam. Orang awam sepertinya lebih simpati dan lebih antusias dalam ilmu dibanding kalangan ikhwan yang terlihat arogan dan suka berdebat.

Belajarlah untuk menghargai perbedaan dalam hal yang memang masih bisa ditolerir.

Sebagaimana kita pun tolerir dengan orang yang beda dalam hal menggerakkan jari ataukah tidak saat tasyahud, duduk tawarruk ataukah iftirosy dalam shalat yang dua raka’at, maka dalam masalah yang lain yang itu adalah hasil ijtihad ulama, pintar-pintarlah menghargai khilaf atau perbedaan. Contoh yang Muslim.Or.Id kaji belakangan ini dalam hal coblos atau memberikan suara dalam Pemilu. Semua ulama Ahlus Sunnah sepakat akan batil dan rusaknya sistem demokrasi, namun dalam masalah mencoblos dalam Pemilu, mereka sikapi lain. Sebagian melarang ikut serta dalam Pemilu, sebagian lainnya membolehkan karena menimbang adanya maslahat jika kaum muslimin memberikan suara, sebagian ulama bahkan menyatakan wajibnya.

Perhatikan perkataan ulama yang arif dalam menyikapi perbedaan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Adapun jika dalam suatu permasalahan tidak ditunjukkan dalil yang tegas, juga tidak ada ijma’, maka berijtihad ketika itu dibolehkan dan tidak perlu orang yang berijtihad dan yang mengikuti diingkari dengan keras. … Dalam masalah ijtihad ini selama tidak ada dalil yang tegas tidak perlu sampai mencela para mujtahid yang menyelisihinya seperti dalam permasalahan yang masih diselisihi para salaf.” (Majmu’ Al Fatawa, 9: 112-113).
Ingatlah ikhwah …

Jangan sampai kita pun dikatakan sebagai orang yang sombong karena punya sifat merendahkan orang lain karena merasa diri yang paling benar dengan pendapatnya. Sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud

إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sesungguhnya Allah itu jamil (indah) dan menyukai suatu yang indah. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91. Imam Nawawi memberi judul Bab “Haramnya sifat sombong dan penjelasannya“)

Ingatlah pula sabda Nabi kita agar punya niat yang benar dalam belajar. Dari Ka’ab bin Malik, dari ayahnya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ »

“Barangsiapa yang menuntut ilmu karena hendak mendebat para ‘ulama, atau berbangga-bangga di hadapan orang-orang bodoh, atau ingin perhatian orang tertuju pada dirinya, maka Allah akan masukkannya ke dalam neraka.” (HR. Tirmidzi no. 2654. Hasan menurut Syaikh Al Albani)

Rasul itu diutus untuk mengajarkan akhlak yang mulia,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlaq.” (HR. Ahmad 2: 381, shahih)

Bahkan Rasul pun meminta agar diberikan akhlak yang mulia. Beliau memanjatkan do’a,

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

“Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlaq yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlaq tersebut kecuali Engkau)” (HR. Muslim no. 771).

Itulah banyak yang mengaku salaf, namun akhlak jauh sekali dari tuntunan salaf.

Padahal akhlak yang mulia dibarengi dengan takwa paling mudah membuat kita masuk surga.

Dari Abu Hurairah, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Begitu pula tanda sempurnanya iman adalah karena akhlak yang mulia. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud no. 4682 dan Ibnu Majah no. 1162. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Akhlak yang baik (husnul khuluq) ditafsirkan oleh para salaf dengan menyebutkan beberapa contoh. Al Hasan Al Bashri mengatakan,

حُسنُ الخلق : الكرمُ والبذلة والاحتمالُ

“Akhlak yang baik adalah ramah, dermawan, dan bisa menahan amarah.”

Asy Sya’bi berkata bahwa akhlak yang baik adalah,

البذلة والعطية والبِشرُ الحسن ، وكان الشعبي كذلك

“Bersikap dermawan, suka memberi, dan memberi kegembiraan pada orang lain.” Demikianlah Asy Sya’bi, ia gemar melakukan hal itu.

Ibnul Mubarok mengatakan bahwa akhlak yang baik adalah,

هو بسطُ الوجه ، وبذلُ المعروف ، وكفُّ الأذى

“Bermuka manis, gemar melakukan kebaikan dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”

Imam Ahmad berkata,

حُسنُ الخلق أنْ لا تَغضَبَ ولا تحْتدَّ ، وعنه أنَّه قال : حُسنُ الخلق أنْ تحتملَ ما يكونُ من الناس

“Akhlak yang baik adalah jangan engkau marah dan cepat naik darah.” Beliau juga berkata, “Berakhlak yang baik adalah bisa menahan amarah di hadapan manusia.” (Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 457-458).

Ikhwah sekalian, jika memang kita mengaku sebagai Ahlus Sunnah, marilah perbaiki akhlak kita dalam bersikap. Mungkin karena akhlak yang tidak baik yang membuat dakwah Ahlus Sunnah sulit masuk di tengah-tengah masyarakat. Padahal dakwah tersebut adalah dakwah yang indah.

Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.

Sumber: https://muslim.or.id/20932-tak-pandai-menyikapi-beda-pendapat-ulama.html
Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement